Ngaji Bareng PCNU Kota Blitar, Jamaah Dalami Risalah Ahlussunnah Wal Jamaah

BLITAR — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Blitar kembali menggelar kegiatan Ngaji Bareng PCNU Kota Blitar di Kantor PCNU Kota Blitar, Jalan Cisadane Nomor 9, Bendo, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 06.00 hingga 10.00 WIB tersebut diikuti oleh ratusan jamaah Nahdlatul Ulama. Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran pengurus PCNU Kota Blitar, badan otonom (Banom), berbagai lembaga di lingkungan NU, serta masyarakat sekitar.


Kegiatan diawali dengan tadarus Al-Qur'an. Suasana pengajian kemudian dilanjutkan dengan kajian keislaman yang menghadirkan sejumlah materi keagamaan sebagai sarana memperkuat pemahaman dan wawasan ke-NU-an serta keislaman para jamaah.

Salah satu materi utama dalam kegiatan tersebut adalah kajian Kitab Risalah Ahlussunnah Wal Jamaah, khususnya halaman 26, yang disampaikan oleh KH Abdil Karim Muhaimin, Ketua MUI Kota Blitar.


Dalam kajian tersebut dibahas sejumlah hadis yang menjelaskan berbagai tanda perubahan zaman dan kondisi kehidupan umat manusia. Di antaranya adalah ketika amanah tidak lagi dijaga sebagaimana mestinya, sedekah dianggap sebagai kerugian, dan ilmu dipelajari bukan untuk kepentingan agama.

Materi juga mengingatkan tentang perubahan nilai dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Dalam hadis yang dikaji disebutkan kondisi ketika seseorang lebih menaati istrinya tetapi durhaka kepada ibunya, lebih dekat kepada teman tetapi menjauhkan ayahnya, serta meningginya suara di masjid.


Mengkaji Perubahan Nilai di Tengah Masyarakat

Kajian berikutnya membahas munculnya hiburan dan alat musik serta merebaknya minuman keras. Dalam teks yang dikaji juga disebutkan adanya kondisi ketika generasi belakangan mencela generasi terdahulu.

Pesan tersebut menjadi bagian dari kajian untuk mengajak jamaah memahami pentingnya menjaga nilai-nilai agama dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak kalah penting, jamaah juga diajak memahami hadis mengenai masa-masa penuh tipu daya, ketika ukuran benar dan salah mengalami kekacauan. Dalam hadis tersebut digambarkan orang yang jujur justru didustakan, sementara orang yang berdusta dipercaya. Orang yang amanah dikhianati, sedangkan orang yang berkhianat justru dipercaya.

Dalam hadis yang sama juga disebutkan istilah ar-Ruwaibidhah, yakni orang yang rendah kapasitasnya tetapi berbicara mengenai urusan masyarakat.

Kajian tersebut memberikan pesan penting mengenai perlunya kehati-hatian dalam menerima dan menyampaikan informasi, sekaligus pentingnya memiliki ilmu, adab, dan tanggung jawab ketika berbicara mengenai persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat luas.

Memperkuat Tradisi Keilmuan NU

Selain kajian kitab, kegiatan Ngaji Bareng PCNU Kota Blitar juga menjadi ruang silaturahmi antara pengurus, Banom, lembaga, jamaah, dan masyarakat.

Kehadiran ratusan jamaah menunjukkan bahwa tradisi ngaji, tadarus, dan silaturahmi masih menjadi bagian penting dalam kehidupan warga Nahdlatul Ulama di Kota Blitar.

Melalui kegiatan semacam ini, PCNU Kota Blitar terus menghadirkan ruang belajar bersama bagi masyarakat. Kajian keagamaan tidak hanya menjadi sarana menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan refleksi terhadap kondisi kehidupan umat dan memperkuat pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat.

Kegiatan berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kebersamaan. Rangkaian Ngaji Bareng PCNU Kota Blitar tersebut menjadi salah satu ikhtiar untuk terus merawat tradisi keilmuan, memperkuat ukhuwah, serta membangun masyarakat yang berlandaskan ilmu, akhlak, dan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah.

Ngaji, silaturahmi, dan belajar bersama menjadi bagian dari ikhtiar merawat tradisi Nahdlatul Ulama sekaligus menghadirkan nilai-nilai keislaman di tengah kehidupan masyarakat.

0 Comments